Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah melakukan seusatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya murid mungkin belakar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai baik. Motivasi instrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan seusatu demi sesuatu itu sendiri(tujuan itu sendiri). Misalnya, murid mungkin belajar mengahadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu.
Determinasi dir
i dan pilihan personal
Salah satu pandangan tentang motivasi intrinsik menekankan pada satu determinasi diri. Dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Para periset menemukan bahwa motivasi internal dan minat intrinsik dalam tugas sekolah naik apabila murid mempunyai pilihan dan peluang untuk mengambil tanggungjawab personal atas pembelajaran mereka (Grolnick dkk.,2002;Stipek,1996,2002). Misalnya dalam sebuah studi, murid sains di SMA yang diajak untuk mengorganisir sendiri ekspeimen mereka akan lebih perhatian dan berminat terhadap paktik laboratorium ketimbang murid yang diharuskan mengikuti instruksi dan aturan guru yang ketat (Rainey,1965). Imbalan Ekstrinsik dan Motivasi Instrinsik Imbalan dapat berguna untuk mengubah perilaku. Akan tetapi, dalam beebrapa situasi imbalan dan hadiah dapat melemahkan perilaku pembelajaran. Dua kegunaan hadiah di kelas adalah: sebagai insentif agar mau mengerjakan tugas, di mana tujuannya adalah mengontrol perilaku murid mengandung informasi tentang penguasaan keahlian. Untuk memahami perbedaan antara penggunaan imbalan untuk mengontrol perilaku murid dengan penggunaan imbalan untuk memberi informasi, perhatikan contoh berikut ini (Schunk,2000) : Seorang guru menggunakan sistem hadiah di mana semakin banyak tugas yang diselesaikan murid, semakin banyak pula poin yang mereka raih. Murid akan termotivasi untuk mengerjakan tugas guna memperoleh poin tersebut karena mereka diberi tahu bahwa poin itu dapat ditukar dengan hadiah privilese. Namun poin itu juga memberikan informasi tentang kemampuan mereka. Yakni, semakin besar poin mereka, semakin banyak tugas yang telah mereka selesaikan. saat mereka mengumpulkan poin, murid makin merasa kompeten. Sebaliknya, jika poin itu diberikan hanya untuk imbalan, maka tugas akan dianggap sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang berupa hadiah itu. Dalam kasus ini, karena poin itu tidak menyampaikan informasi apa pun tentang kemampuan murid, maka murid kemungkinan akan menganggap imbalan atau hadiah sebagai pengontrol perilaku mereka.
Referensi :
Santock,J.W. (2008). Educational Psychology (3rd ed). New York : McGraw-Hill
Gambar diambil :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8XmkkU47w5etlTUBRFvWNhLbXPKJ4utOQWyMdGghA4rj2X2ozarZ3dGSFi3AxPTyd2eUdjWululRduvPXGpLFrCRpoz-3-6r1UXIbdUGDzCPeiBq6Wo_uPsi_WJZYne2PNtq9SOn_E5k/s400/sukses.jpg
Motivasi ekstrinsik adalah melakukan seusatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya murid mungkin belakar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai baik. Motivasi instrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan seusatu demi sesuatu itu sendiri(tujuan itu sendiri). Misalnya, murid mungkin belajar mengahadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang diujikan itu.
Determinasi dir
i dan pilihan personalSalah satu pandangan tentang motivasi intrinsik menekankan pada satu determinasi diri. Dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Para periset menemukan bahwa motivasi internal dan minat intrinsik dalam tugas sekolah naik apabila murid mempunyai pilihan dan peluang untuk mengambil tanggungjawab personal atas pembelajaran mereka (Grolnick dkk.,2002;Stipek,1996,2002). Misalnya dalam sebuah studi, murid sains di SMA yang diajak untuk mengorganisir sendiri ekspeimen mereka akan lebih perhatian dan berminat terhadap paktik laboratorium ketimbang murid yang diharuskan mengikuti instruksi dan aturan guru yang ketat (Rainey,1965). Imbalan Ekstrinsik dan Motivasi Instrinsik Imbalan dapat berguna untuk mengubah perilaku. Akan tetapi, dalam beebrapa situasi imbalan dan hadiah dapat melemahkan perilaku pembelajaran. Dua kegunaan hadiah di kelas adalah: sebagai insentif agar mau mengerjakan tugas, di mana tujuannya adalah mengontrol perilaku murid mengandung informasi tentang penguasaan keahlian. Untuk memahami perbedaan antara penggunaan imbalan untuk mengontrol perilaku murid dengan penggunaan imbalan untuk memberi informasi, perhatikan contoh berikut ini (Schunk,2000) : Seorang guru menggunakan sistem hadiah di mana semakin banyak tugas yang diselesaikan murid, semakin banyak pula poin yang mereka raih. Murid akan termotivasi untuk mengerjakan tugas guna memperoleh poin tersebut karena mereka diberi tahu bahwa poin itu dapat ditukar dengan hadiah privilese. Namun poin itu juga memberikan informasi tentang kemampuan mereka. Yakni, semakin besar poin mereka, semakin banyak tugas yang telah mereka selesaikan. saat mereka mengumpulkan poin, murid makin merasa kompeten. Sebaliknya, jika poin itu diberikan hanya untuk imbalan, maka tugas akan dianggap sebagai sarana untuk mencapai tujuan yang berupa hadiah itu. Dalam kasus ini, karena poin itu tidak menyampaikan informasi apa pun tentang kemampuan murid, maka murid kemungkinan akan menganggap imbalan atau hadiah sebagai pengontrol perilaku mereka.
Referensi :
Santock,J.W. (2008). Educational Psychology (3rd ed). New York : McGraw-Hill
Gambar diambil :
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8XmkkU47w5etlTUBRFvWNhLbXPKJ4utOQWyMdGghA4rj2X2ozarZ3dGSFi3AxPTyd2eUdjWululRduvPXGpLFrCRpoz-3-6r1UXIbdUGDzCPeiBq6Wo_uPsi_WJZYne2PNtq9SOn_E5k/s400/sukses.jpg


0 komentar:
Posting Komentar